There are many kind of sport that do by someone, not only kinds of sport for competition. Sports in this writing are aimed for all community. So that, really all of us can do simple sport well whenever, whereever. so don't be fraid to do
Cari Blog Ini
Selamat Datang, Kawan
Mari berbagai pengetahuan tentang pendidikan, terutama pendidikan jasmani. dan juga tentang Olahraga Bagi yang tertarik kami tunggu komentar dan pendapatnya. OK?
Senin, 16 November 2009
AGRESIFITAS DALAM OLAHRAGA
Agresifitas sering kali diterjemahkan oleh banyak orang dalam pengertian yang kurang tepat. Orang cenderung mengartikan kearah perilaku yang negatif. Perilaku yang ingin melukai lawan pada saat pertandingan. Namun sebenarnya agresifitas dalam olahraga memiliki pengertian juga pengertian perilaku yang positif. Dalam hal ini adalah agresifitas mengandung arti semangat. Dalam olahraga khususnya olahraga yang bersifat kompetisi, agresifitas sangat diperlukan sekali. Namun Agreifitas ini tidak akan muncul secara tiba-tiba jika seorang atlet tidak pernah melatihnya. Sebuah otomatisasi perilaku agresif nampak jika dalam proses latihan sampai pada saat pertandingan sudah terbiasa dilatih dengan baik. Perilaku agresif dalam olahraga seringkali ditampakkan dalam gerakan-gerakan tertentu. Dalam setiap cabang olahraga tentunya berbeda. Contoh agresifitas pemain voli saat pemain akan melakukan gerakan smash, menerima smash dan pada pemain sepak bola adalah jika pemain penyerang akan mencetak gol ke gawang lawan. Sedangkan pemain lawan pada posisi bertahan akan menghalau bola dari penyerang. Nah bagaimana komentar anda?
Senin, 19 Oktober 2009
2 (DUA) PENTING BAGI GURU PENDIDIKAN JASMANI
Mengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani adalah sebuah tugas yang mengasyikkan. Mengapa? Pertama, karena kita dituntut untuk dapat menguasai ketrampilan dengan baik. Tanpa kemampuan ketrampilan yang baik kita cukup kesulitan membuat mereka percaya pada kita. Tetapi dengan skill yang baik mereka akan berfikir 2 kali untuk tidak mempercayai. Namun, tidak cukup itu. Kedua) kita perlu ketrampilan untuk mengkomunikasikan apa yang akan kita ajarkan dengan baik. Intonasi suara kita, Kehangatan kita dalam berkomunikasi, dalam proses komunikasi, Kita mestinya harus paham benar bagaimana karakteristik (suasana kejiwaan siswa kita, motivasi belajar mereka sekaligus kemampuan berfikir mereka.
2 hal ini penting kita pamahami dengan baik agar kita dapat melakukan tugas kita secara profesional. Ada komentar? saya tunggu, OK?
2 hal ini penting kita pamahami dengan baik agar kita dapat melakukan tugas kita secara profesional. Ada komentar? saya tunggu, OK?
RELI POINT DALAM PERHITUNGAN SKOR BULUTANGKIS
sistem 21 point,
- Setiap service over selalu ada pertambahan angka, pemain selalu menghasilkan angka meski tidak melakukan service.
- Nilai ganjil (1,3,5,dst) dimulai dari kiri. Dan nilai genap (2,4,6,dst) dimulai dari kanan pemain pemegang service.
- Sama seperti single, untuk ganda hanya ada 1 service (tidak ada bole ke dua).
-Jika skor 20-20, pemenang harus unggul 2 point berurutan (consecutive). Misal: 22-20, 23-21,dst
-jika skor 29-29, pemenang adalah yang mencapai angka 30.
-aturan teknis lainnya, sama dengan aturan terdahulu.
materi referensi:
http://www.badminton-information.com/basic_badminton_rules.html
- Setiap service over selalu ada pertambahan angka, pemain selalu menghasilkan angka meski tidak melakukan service.
- Nilai ganjil (1,3,5,dst) dimulai dari kiri. Dan nilai genap (2,4,6,dst) dimulai dari kanan pemain pemegang service.
- Sama seperti single, untuk ganda hanya ada 1 service (tidak ada bole ke dua).
-Jika skor 20-20, pemenang harus unggul 2 point berurutan (consecutive). Misal: 22-20, 23-21,dst
-jika skor 29-29, pemenang adalah yang mencapai angka 30.
-aturan teknis lainnya, sama dengan aturan terdahulu.
materi referensi:
http://www.badminton-information.com/basic_badminton_rules.html
Minggu, 18 Oktober 2009
SUDAHKAH KITA MENGAJAR PENDIDIKAN JASMANI DG BENAR?
Pendidikan jasmani, memiliki tujuan pendidikan yang menyeluruh terhadap peningkatan sumber daya manusia. Hal ini dapat kita ketahui bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani meliputi aspek kognitif, jasmani, mental dan emosional , sosial serta ketrampilan. Dari tujuan ini seyogyanya kita dalam mengajar pendidikan jasmani tidak hanya untuk meraih tujuan ketrampilan semata namun, kita harus pula memperhatikan aspek-aspek lainnya.
Kita dapat memahami bahwa pendidikan jasmani diajarkan melalui aktivitas gerak. Namun bukan berarti kita hanya transfer ketrampilan tetapi justru memlaui aktivitas gerak kita mendidik. Mendidik pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan aspek kognitif,afektif dan psikomotor. Contoh, Aspek kognitif sudah seringkah kita memberikan materi pembelajaran yang bersifat pengetahuan keolahragaan dari aspek teknik, taktik hingga peraturan. Yang kedua sudahkah kita mengajarkan dari aspek afeksi, contoh tentang sikap menghargai teman, membantu teman, memiliki disiplin, semangat dll. Pernahkah Kita benar-benar secara sengaja membelajarkan hal-hal tersebut di atas. Kalau berbicara apakah kita mengajar ketrampilan jawabannya tentu ya. Nah persoalannya sekarang adalah apakah kita sebagai pendidik pendidikan jasmani sudah mengaplikasikan hal tersebut? Kalau jawaban kita belum berarti apa yang kita ajarkan masih perlu di tingkatkan profesionalnya. Namun jika jawaban kita sudah, nampaknya kita masih tetap dan tetap meningkatkan kinerja kita karena untuk profesional tidak ada kata cukup. Bagaimana? ada komentar? silahkan saya tunggu
Kita dapat memahami bahwa pendidikan jasmani diajarkan melalui aktivitas gerak. Namun bukan berarti kita hanya transfer ketrampilan tetapi justru memlaui aktivitas gerak kita mendidik. Mendidik pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan aspek kognitif,afektif dan psikomotor. Contoh, Aspek kognitif sudah seringkah kita memberikan materi pembelajaran yang bersifat pengetahuan keolahragaan dari aspek teknik, taktik hingga peraturan. Yang kedua sudahkah kita mengajarkan dari aspek afeksi, contoh tentang sikap menghargai teman, membantu teman, memiliki disiplin, semangat dll. Pernahkah Kita benar-benar secara sengaja membelajarkan hal-hal tersebut di atas. Kalau berbicara apakah kita mengajar ketrampilan jawabannya tentu ya. Nah persoalannya sekarang adalah apakah kita sebagai pendidik pendidikan jasmani sudah mengaplikasikan hal tersebut? Kalau jawaban kita belum berarti apa yang kita ajarkan masih perlu di tingkatkan profesionalnya. Namun jika jawaban kita sudah, nampaknya kita masih tetap dan tetap meningkatkan kinerja kita karena untuk profesional tidak ada kata cukup. Bagaimana? ada komentar? silahkan saya tunggu
Kamis, 01 Oktober 2009
SATU TRIK DALAM MENGAJAR OLAHRAGA
Bagaimana cara mengajar kita? pernahkah kita mencoba merenung bahwa mengajar perlu terus menerus berbenah agar apa yang kita ajarkan dapat diterima oleh siswa atau orang yang kita ajar. Kalau jawaban kita ya berarti kita patut bersyukur bahwa kita adalah orang yang berani berubah untuk lebih maju.
Dan, salah satu kata yang memberikan sumbangsih yang signifikan adalah EMPATI. Saya yakin bahwa kita sudah tahu persis arti kata itu. Empati secara sederhana dapat diartikan bahwa kita sebagai pengajar mampu memahami dan mengerti apa yang dirasakan oleh siswa. Dengan kata ini kita mencoba lebih dekat secara fisik dan psikis. Nah, yang secara psikis ini sangat penting, karena jika kita dekat dg siswa maka akan lebih mudah kita memberikan materi. Dengan empati akan terjadi timbal balik dalam menerima dan memberi. Dalam hal ini pangajar cenderung memberi dalam hal materi pembelajaran sedangkan siswa dalam hal perhatian dan tindakan yang harus dilakukan.
Namun kita harus sadari bahwa empati ini tidak akan muncul sendirinya jika kita tidak melatih dan berlatih diri. Oleh sebab itu kita seyogyanya tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan kata empati ini agar tujuan kita dalam membelajarkan siswa lebih berhasil. Salah satu contoh adalah sebuah pehatian/pandangan mata pada saat mengajar harus menyeluruh dan tidak hanya tertuju pada satu, dua atau sekelompok siswa. Ok Selamat mencoba. Ada komentar saya tunggu
Dan, salah satu kata yang memberikan sumbangsih yang signifikan adalah EMPATI. Saya yakin bahwa kita sudah tahu persis arti kata itu. Empati secara sederhana dapat diartikan bahwa kita sebagai pengajar mampu memahami dan mengerti apa yang dirasakan oleh siswa. Dengan kata ini kita mencoba lebih dekat secara fisik dan psikis. Nah, yang secara psikis ini sangat penting, karena jika kita dekat dg siswa maka akan lebih mudah kita memberikan materi. Dengan empati akan terjadi timbal balik dalam menerima dan memberi. Dalam hal ini pangajar cenderung memberi dalam hal materi pembelajaran sedangkan siswa dalam hal perhatian dan tindakan yang harus dilakukan.
Namun kita harus sadari bahwa empati ini tidak akan muncul sendirinya jika kita tidak melatih dan berlatih diri. Oleh sebab itu kita seyogyanya tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan kata empati ini agar tujuan kita dalam membelajarkan siswa lebih berhasil. Salah satu contoh adalah sebuah pehatian/pandangan mata pada saat mengajar harus menyeluruh dan tidak hanya tertuju pada satu, dua atau sekelompok siswa. Ok Selamat mencoba. Ada komentar saya tunggu
Senin, 28 September 2009
OLAHRAGA PEMBENTUK KARAKTER POSITIF
Olahraga merupakan salah satu media untuk membentuk karakter positif bagi pelakunya. Karakter ini akan dapat dicapai jika kita memang menginginkannya. Kadang kita berolahraga "hanya" sekedar ingin bugardan terampil. Namun kurang begitu menyadari bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya bisa lebih jauh dari itu dalam aspek pembentukan karakter. Kita bisa ambil contoh, permainan futsal yang merupakan olahraga beregu. Pertanyaannya? Nilai-nilai apa yang dapat kita tuju dari permainan futsal? dalam hal ini kita tidak sekedar memperoleh hasil atau efek samping. Namun kita benar-benar ingin mencapai tujuan yang kita kehendaki. Nilai itu adalah 1) bahwa kita bisa dengan sadar bahwa futsal media yang sangat ampuh untuk melatih kerjasama. Kita tahu bahwa sebuah karakter kerjasama tidak akan muncul pada diri kita jika kita tidak melatihnya. Bagaimana? 2) melatih diri untuk taat terhadap aturan. Kita tahu bahwa dalam futsal peraturan permainan demikian ketatnya, jika ada yang melanggar maka dia harus menerima hukuman yang akan diberikan seorang wasit. Namun andai dalam kita bermain tidak ada wasit bagaimana kita menyikapi? sekali lagi kalau kita concern terhadap tujuan yang kita inginkan maka ada atau tidak ada wasit tidaklah terlalu penting. Sebab kita dapat berlatih untuk tertib dan menghargai aturan yang sudah terbentuk. Dengan demikian maka karakter kita akan terbentuk dengan baik bahwa kita sudah terbiasa dengan menghargai aturan dan mentaati aturan. ke 3) Melatih emosi, sering kita dalam bermain futsal timbul rasa marah, kecewa, sakit hati atau dendam. Namun jika kita menyadari tujuan yang akan kita raih mestinya sikap-sikap yang negatif tersebut akan kita lawan dengan sikap sikap yang positif. Kita tidak akan mudah kecewa jika ada teman bermain yg bermainnya jelek. Kita tidak akan mudah marah jika kita "dilukai" oleh lawan dsb. Nah ha-hal yg demikian itulah yang akan kita raih untuk membentuk karakter yang positif. Bagaimana? Ada komentar? saya tunggu.
Minggu, 27 September 2009
MAKNA PENDIDIKAN JASMANI
Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas fisik atau gerak. Makna ini mengandung bahwa kita sebagai seorang guru pendidikan jasmani bertugas mendidikan siswa agar memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang positif agar mereka menjadi siswa yang semakin dewasa dalam berfikir, bersikap dan bertindak. Pendidikan jasmani dan olahraga adalah media yang harus kita berikan. Namun dalam kenyataan dalam pembelajaran penjas masih cukup banyak guru-guru penjas cenderung "hanya" mengajar ketrampilan atau bahkan sekedar transfer ketrampilan. Nah, hal yang semacan ini bukan berarti salah namun tujuan yang sebenar masih belum tercapai. Disinilah kita memiliki peran untuk merubah cara berpikir kita dan sekaligus mnsosialisasikan kepada teman-teman guru penjas yang lain. Memang dalam satu sisi kita dihadapkan pada berbagai lomba/pertandingan cabang olahraga, namun hal ini seharusnya tetap tidak merubah tujuan akhir dari pendidikan jasmani. Nah, disini kita dituntut untuk pandai-pandai untuk melihat sekaligus membedakan kapan kita harus menerapkan konponen pendidikan jasmani dan kapan kita harus melatih olahraga. Nah bagaimana teman2? sepakat?
Rabu, 23 September 2009
LEMPAR BOLA
Pertama-tama, kita membuat lingkaran besar dengan diameter kurang lebih 20 meteran. Kemudian semua siswa berada di dalam lingkaran dan 2 siswa sebagai pelempar. Pelempar berada di luar lingkaran dan tidak boleh masuk di dalam lingkaran. Permainan ini menggunakan alat yaitu, bola kasti atau bola plastik kecil. Cara bermainnya adalah 2 pelempar melakukan lemparan hingga dapat mengenai kaki atau lutut sampai bawah. Jika ada siswa yg terkena bola maka ia akan menjadi pelempar. Dalam hal ini, maka pelempar akan terus bertambah sesuai dengan jumlah siswa yg kena lemparan bola. Perlu dicatat bahwa lemparan tidak boleh mengenai badan atau kepala. Ok selamat mencoba. Bingung silahkan beri komentar.
KEMBALI KE RUMAH
Permainan Ini cukup sederhana, namun memberikan suasana pembelajaran yang menarik, Pertama, kita membuat 3 Pos (rumah) dengan jarak kurang lebih 20 meter dari masing-masing pos. Besar kecilnya Pos disesuaikan dengan jumlah siswa, misal 3 x 3 meter.n Posisi pos satu dengan yg lain sama sisi. Permainan di awali dengan siswa berlari pelan di dalam pos dengan membentuk lingkaran. Dengan aba-aba tertentu Guru memberi aba-aba tertentu dalam siswa masuk ke pos masing-masing sesuai dengan kelompok yang sudah di tentukan. Pemenangnya adalah kelompok yang masuk rumah duluan dan yang dinyatakan kalah adalah kelompok yg paling akhir masuk pos. Kemudian guru dapat memberikan hukuman sesuai dengan kesepakatan. Selamat mencoba. Jika kurang jelas silahkan beri komentar.
Rabu, 16 September 2009
BERMAIN KAPAL-KAPALAN
Pernahkah anda disaat kecil bermain kapal-kapal dengan menggunakan kertas buku yang dilipat dan kemudian jadi kapal-kapalan? Kalau anda masih ingat berarti masa kecil anda kategori masa kecil yang bahagia. Nah padapermainan ini kapal-kapalan kita pergunakan sebagai media/alat untuk mebuat siswa-siswa kita bergerak dengan riang gembira. tetapi perlu sejumlah kapal-kapal yang disesuaikan dengan jumlah murid agar masing-masing memiliki kebanggaa. caranya permainan ini perlu dkompetisikan agar ada unsur yang bersifat tantangan. Oleh karena itu guru perlu memiliki stop wach untuk mencatat seberapa lama, masing-masing kapal-kapalannya siswa dapat terbang di awan. dengan ini mereka akan bergerak kesana kemari dengan riang gembira untuk menerbangkan dan mengambil kapal-kapalan yang sudah jatuh di tanah. Perlu kita ingat unsur gerak adalah menjadi tujuan kita dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Nah selamat mencoba? menarik? beri komentar anda?
Senin, 07 September 2009
TEPUK KEJAR
Tepuk kejar adalah sebuah permainan yang banyakmelibatkan unsur berlari. Permainan ini dapat dipergunakan untuk memberikan pemanasan sebelum kita mengajar ke materi inti. Namun permainan ini dapat juga dipergunakan untuk materi inti pembelajaran penjasorkes khususnya kelas rendah dengan mengaitkan terhadap tema tertertentu. Namun kita harus selalu ingat terhadap tujuan pembelajaran. Karena Intensitas, beban dan tingkat kesulitan harus disesuaikan dengan kelas yang ingin kita ajar.
Yang perlu kita persiapkan adalah luas lapangan dengan bentuk empat persegi dengan ukuran yang disesuaikan dengan jumlah siswa. Permainannya adalah ada 1 atau 2 pengejar yang bertindak sebagai pengejar. sedangkan siswa lain bertindak sebagai siswa yang dikejar. Pengejar berusaha mengejar dengan cara menyentuh bahu siswa yg dikejar, dan jika kena maka dia berbalik menjadi mengejar. Nah suapaya tidak dikejar maka siswa yang dikejar harus melakukan jongkok. demikian seterusnya jika dia berdiri maka dapat dikejar kembali. Nah Bagaimana? ingin mencoba?
Yang perlu kita persiapkan adalah luas lapangan dengan bentuk empat persegi dengan ukuran yang disesuaikan dengan jumlah siswa. Permainannya adalah ada 1 atau 2 pengejar yang bertindak sebagai pengejar. sedangkan siswa lain bertindak sebagai siswa yang dikejar. Pengejar berusaha mengejar dengan cara menyentuh bahu siswa yg dikejar, dan jika kena maka dia berbalik menjadi mengejar. Nah suapaya tidak dikejar maka siswa yang dikejar harus melakukan jongkok. demikian seterusnya jika dia berdiri maka dapat dikejar kembali. Nah Bagaimana? ingin mencoba?
Kamis, 13 Agustus 2009
GURU PENDIDIKAN JASMANI SUDAH (BELUM) PROFESIONAL
Membaca judul diatas, maka pertanyaan yang pertama muncul dalam pikiran kita adalah apa pengertian professional? Kedua adalah adakah guru pendidikan jasmani yang professional?. Pertanyaan ketiga, lalu bagaimana guru pendidikan jasmani yang profesional itu.
Kita sering mendengar apa itu istilah olahragawan amatir dan apa itu istilah olahragawan professional. Dan kita juga tahu bahwa kedua pengertian itu jelas-jelas berbeda olahragAwan amatir diartikan bahwa olahragawan yang menekuninya bukan untuk mencari uang, namun sebaliknya olahragawan professional adalah olahragawan yang justru melakukannya karena ingin mencari uang. Kalau menurut kamus bahasa Indonesia istilah amatir artinya orang yang melakukan sesuatu hanya karena hobi atau kesenangan (bukan bertujuan bisnis). Sedangkan istilah professional artinya berkenaan dengan pekerjaan, berkenaan dengan keahlian; memerlukan kepandaian khusus untuk melaksanakannya; mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya.
Berbicara istilah professional memang kita tidak bisa melepaskan dari kata profesi, sebuah jenis pekerjaan yang didasari oleh sebuah pengetahuan atau pendidikan tertentu. Persoalannya adalah apakah kita sebagai guru pendidikan jasmani profesi? Tentu jawabnya adalah ya karena profesi diperlukan sebuah pengetahuan atau pendidikan. Kalau kita sudah merasa bangga dengan sebutan profesi maka pembahasan kita akan kita akhiri sampai disini. Namun jika kita ingin profesi kita ingin menjadi professional maka kita akan teruskan pembahasan ini.
Tanpa kita sadari sebenarnya kita sudah masuk dalam ruang lingkup professional. Mengapa demikian, karena pekerjaan kita sudah menuntut adanya sebuah pembayaran. Nah, disini persoalanya adalah apakah pembayaran yang kita dapatkan apakah sudah cukup? ataukah kita ingin meningkatkan terus. Kalau itu terjadi maka pada dasarnya kita berada pada sebuah proses menuju professional.
Pada pertanyaan yang kedua adakah guru pendidikan jasmani yang professional? Tentu jawabnya bapak/ibu adalah ada. Kita akan merasa kecewa jika dikatakan tidak professional atau tidak ada guru penjas yang professional. Namun dengan kecewa apalagi marah nampaknya tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Bahkan menghabiskan energy kita yang luar biasa besar. Nah sekarang, bagaimana jika saya menawarkan apa tidak sebaiknya bahwa energy kita, kita salurkan pada aspek peningkatan kualitas diri melalui pendidikan dan pelatihan tentang semua hal yang berkaitan dengan kita sebagai guru pendidikan jasmani. Setujukah anda? Kalau jawabannya ya berarti sekali lagi pembahasan ini pantas kita lanjutkan. Namun pertanyaan berikutnya seberapa banyak jumlah guru pendidikan jasmani yang profesional? Dalam hal ini mestinya perlu diadakan penelitian tersendiri, sehingga kita tahu berapa banyak yang dapat dikatakan professional dan berapa yang tidak. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa banyak teman-teman guru pendidikan jasmani yang berada diruangan ini yang ingin professional? Tentu saja jawabnya yang sederhana adalah seberapa kuat motivasi untuk maju dan berkualitas pada masing-masing individu.
Guru diharapkan melaksanakan tugas kependidikan yang tidak semua orang dapat melakukannya, artinya hanya mereka yang memang khusus telah bersekolah untuk menjadi guru, yang dapat menjadi guru profesio-nal. Tetapi sejauh mana ketentuan ini berlaku umum? Apakah sekolah guru menjamin lulusannya pasti adalah guru yang profesional? Banyak juga lulusan sekolah guru yang memberi kesan seolah-olah mereka tidak pernah melalui pendidikan guru. Jadi realitas ini tidak sesuai dengan yang seharusnya berlaku. Bahkan, sesekali ada juga orang yang tidak merupakan lulusan sekolah guru, yang kemudian ternyata dapat menjadi guru. Apakah mereka itu berhak menyandang predikat guru profesional ?
Berita dari dunia pendidikan menggetarkan: pertama, hampir separuh dari lebih kurang 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Yang tidak layak mengajar atau menjadi guru berjumlah 912.505, terdiri dari 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK.
Hal menarik, yang juga dikemukakan oleh Prof Nanang Fatah, yaitu bahwa pada uji kompetensi Matematika, dari 40 pertanyaan rata-rata hanya dua pertanyaan yang diisi dengan benar dan pada Bahasa Inggris hanya satu yang diisi dengan benar oleh guru yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris. Kedua, tercatat 15 persen guru mengajar tidak sesuai dengan keahlian yang dipunyainya atau bidangnya (Kompas, 9/12/05di kutip oleh Baskoro Poedjinoegroho E).Bagaimana dengan guru pendidikan jasmani sudahkah kita professional?
Guru Pendidikan Jasmani Sudah (Belum) Profesional
Kualitas guru pendidikan jasmani di sekolah-sekolah pada umumnya kurang memadai. Mereka kurang mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Demikian Aip Syarifuddin menyampaikan ini dalam orasinya saat dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jumat (14/6). Salah satu masalah utama dalam pengajaran pendidikan jasmani di Indonesia adalah belum efektifnya pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani di sekolah-sekolah. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor diantarnya adalah terbatasnya kemampuan guru dan terbatasnya sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung proses pengajaran pendidikan jasmani.Guru belum berhasil melaksanakan tanggungjawabnya untuk mendidik siswanya secara sistematik melalui kegiatan pendidikan jasmani, untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan siswa secara menyeluruh, baik dalam segi fisik, mental, intelektual maupun sosial dan emosionalnya. (van) (Sinar Harapan, Jakarta 15 Juni 2009)
Peningkatan harkat dan martabat serta penghargaan guru sebagai profesi sebagaimana sudah diatur dalam peraturan pemerintah nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang guru telah merupakan komitmen konkret pemerintah terhadap profesionalitas guru. Realitas nyata sudah pula dibuktikan, yakni penyelenggaraan sertifikasi guru yang diikuti oleh penghargaan berupa tunjangan profesi bagu yang sudah bersertifikat pendidik. Tujuan kebijakan tersebut adalah peningkatan mutu pendidikan dan secara khusus adalah mepingkatan mutu pembelajaran yang berujung pada peningkatan mutu hasil belajar siswa.
Profesionalisasi guru (pendidik) di Indonesia merujuk pada 3 pilar utama, yaitu (a) diakuinya guru sebagai profesi oleh masyarakat dan pemerintah, diakuinya keberadaan profesi ini sebagai layanan yang unik, (b) disadarinya kenyataan bahwa layanan ahli yang unik itu merupakan terapan suatu kiat (arts), atau terapan non rutin, dari kemampuan akademik yang solid untuk suatu bidang layanan, yang diperoleh melalui pendidikan akademik yang sistematis dan sungguh-sungguh (rigorous) serta berlangsung relative lama, yang kemudian disambung dengan pendidikan profesi yang berupa latihan menerapkan kemampuan yang dikuasai pada tahap pendidikan akademik yang dimaksud, dalam konteks otentk di lapangan disertai mekanisme penyeliaan yang sistematis dan (c) diizinkannya hanya pengampu layanan ahli yang mengedepankan kemaslahatan pengguna layanan khususnya, dan kemaslahatan peserta didik, sehingga layak menerima imbalan yang memadai (Raka Joni, 2007).
Dalam menjalankan tugas professional, kompetensi guru tersebut harus dibuktikan dalam kemampuan-kemampuan berikut: (1) mengenal peserta didik yang akan dilayani secara mendalam, (2) menguasai bidang ilmu baik secara keilmuan maupun pemilihan dan pengemasannya kedalam materi pembelajaran, (3) menyusun rancangan pembelajaran beserta perangkat perangkat pembelajaran, termasuk perangkat evaluasi proses dan hasil pembelajaran, (4) mengimplementasikan rancangan program pembelajaran serta melakukan penyesuaian-penyesuaian demi tercapainya tujuan pembelajaran, (5) menguasai bidang-bidang lain yang diperlukan untuk meningkatkan pembelajaran dan memutakhirkan pengetahuan dan ketrampilan pendidik, dan (6) memiliki sikap, nilai, dan kebiasaan berfikir produktif yang perwujudannya berupa kebiasaan berfikir kritis, berfikir kreatif, mandiri, serta perilaku yang menunjang tampilan kinerja pendidik.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik. Harapan tersebut tentu saja ujungnya adalah terwujudnya guru yang profesional yang mampu menjalankan profesinya sesuai dengan berbagai tuntutan tempat melaksanakan tugasnya. Dengan kata lain usaha sertifikasi ini pada dasarnya adalah meningkatnya efektivitas pembelajaran yang dilakukan para guru pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah.
Upaya meningkatkan profesionalisme guru menurut Gerstner dkk., peranan guru tidak hanya sebagai teacher (pengajar), tapi guru harus berperan sebagai; (1) Pelatih (coach), guru yang profesional, yang berperan ibarat pelatih olah raga. Ia lebih banyak membantu siswanya dalam permainan, bedanya permainan itu adalah belajar (game of learning) sebagai pelatih, guru mendorong siswanya untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi-tingginya. (2) Konselor, guru akan menjadi sahabat siswa, teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban dari siswa, menciptakan suasana di mana siswa belajar dalam kelompok kecil di bawah bimbingan guru. (3) Manajer belajar, guru akan bertindak ibarat manajer perusahaan, ia membimbing siswanya belajar, mengambil prakarsa, mengeluarkan ide terbaik yang dimilikinya. Di sisi lain, ia sebagai bagian dari siswa, ikut belajar bersama mereka sebagai pelajar, guru juga harus belajar dari teman seprofesi. Sosok guru itu diibaratkan segala bisa.( Husainiyah, pikiran rakyat, Kamis, 17 Februari 2005)
Ada beberapa, tugas pokok disamping ada empat fungsi sebagai guru masing-masing adalah guru sebagai pemimpin, guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar dan guru sebagi pembimbing. Tugas-tugas pokok tersebut meliputi; peningkatan kesegaran jasmani anak didik, memimpin kegiatan dalam bermain atau latihan yang, seiring dengan pembelajaran, sebagai motivator dan penegak disiplin.
Untuk tercapainya tujuan pembelajaran pada setiap tatap muka seringkali dijumpai beberapa murid mengalami kesulitan dalam penguasaan skil-skill (keterampilan) gerak. Dalam kondisi seperti ini sebagai guru pendidikan jasmani dituntut profesionalisme dalam pelayanan untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Guru pendidikan jasmani dituntut coaching assets atau modal kepelatihan agar memiliki sifat yang bernilai dari seorang guru penjas disamping sebagai guru juga dia sebagai orang tua, motivator yang memperlancar pendekatan yang positif dan menentukan, dan sebagai teman yang senantiasa membantu memberi dukungan guna tercapainya tujuan pembelajaran. Rasa humor sangat dibutuhkan oleh anak didik manakala rasa jenuh, rasa lelah dan penguasaan materi pembelajaran termasuk skill-skill kurang dikuasai dengan cepat.
Kompetensi pendidik sebagaimana dinyatakan dalam PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, terurai menjadi 4 komponen, yaitu (1) kompetensi pedagogis, (2) kompetensi profesional (dalam penjelasan yang dimaksud kompetensi profesional adalah penguasaan bidang ilmu yang diajarkan), (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi kepribadian. Pengembangan elemen-elemen kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah, akan tetapi musti dilakukan dalam bingkai utuh kompetensi guru.
Kompetensi guru merupakan bentuk integrasi yang bersenyawa dari berbagai pengetahuan dan keterampilan yang sisi-sisinya menampakkan (1) penguasaan dalam disiplin ilmu secara baik dan mendalam (Kompetensi Profesional), (2) penguasaan teori belajar dan pembelajaran serta mengenal peserta didik secara mendalam (Kompetensi Pedagogis), (3) pengembangan pembelajaran, yang terdiri atas kemampuan menganalisis tujuan, menganalisis isi dan mengorganisasi isi, merancang scenario pembelajaran, menyusun perangkat pembelajaran, dan mengembangkan sistem evaluasi (Kompetensi Pedagogis dan Profesional), (4) melaksanakan pembelajaran yang mendidik (Kompetensi Pedagogis dan Profesional). Kinerja tersebut memerlukan dukungan (5) penguasaan bidang-bidang lain yang diperlukan untuk meningkatkan pembelajaran dan memutakhirkan pengetahuan dan keterampilanm pendidik (Kompetensi Sosial dan Kepribadian), dan (6) sikap, nilai, dan kebiasaan berpikir produktif, serta perilaku yang menunjang tampilan kinerja pendidik (Kompetensi Sosial dan Kepribadian)
Kebijakan, penelitian, dan praktik di lapangan semua menegaskan bahwa guru memiliki dampak yang signifikan terhadap pendidikan anakanak bangsa. Tidak hanya Indonesia yang terpuruk mutu pendidikannya, Amerika Serikat pun memberikan mandat melalui Public Law 107-110 (NoChild Left Behind Act), bahwa pada tahun 2005-2006 semua anak di setiap sekolah di Amerika Serikat diajar oleh guru yang berkualitas tinggi. Guru yang berkualitas tinggi didefinisikan sebagai profesional yang memiliki lesensi mengajar dalam bidangnya (U.S. Departmen of Education, 2002), yang di dalam Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 disebut guru yang memiliki kualifikasi sarjana (S1) atau Diploma IV, dan memiliki sertifikat pendidik.
Kompetensi pedagogis, Secara umum, dari gambar di atas dapat dikatakan bahwa rerata proporsi waktu aktif belajar gerak dan angka partisipasi siswa di atas 40% merupakan indikator yang termasuk dalam katagori baik. Oleh karena itu berdasarkan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, cukup jelas bahwa kompetensi pedagogis guru pendidikan jasmani termasuk kategori bagus. Namun demikian apabila dianalisis berdasarkan masa kerja terlihat jelas bahwa semakin lama masa kerja, maka semakin menurun kompetensi pedagogisnya. Kompetensi Profesional, Minimnya pengetahuan yang diperoleh saat pre-service training tampaknya juga berpengaruh pada keyakinan guru dalam menjalankan profesinya. Sebanyak 36,11% menyatakan bahwa mereka merasa tidak layak menjalankan tugas mengajar secara profesional. Mereka yang menyatakan cukup layak sebesar 55,56%, dan hanya 2,78% yang menyatakan sangat layak. Kompetensi kepribadian, Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun secara umum cukup memadai, tetapi yang menyedihkan adalah masa kerja berbanding terbalik dengan kompetensi kepribadian. Semakin lama masa kerja, semakin menurun kompetensi kepribadiannya. Penurunan terjadi di semua aspek, mulai dari kejujuran, kedisiplinan, keterbukaan, etos kerja, dan inovasi. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar Bagaimana dengan kompetensi sosial? Sebagaimana yang terjadi pada kompetensi kepribadian terjadi pula pada kompetensi sosial. Penjelasan yang diberikan pada kompetensi kepribadian dapat juga diterapkan pada konteks kompetensi kepribadian. (Ali Maksum, on line diakses tgl. 23 Maret 2009)
Kesimpulan yang dapat kita paparkan adalah bahwa kata profesionalisme adalah sebuah proses menuju seseorang menjadi ahli, namun jika keahlian sudah diperoleh bukan berarti proses itu berhenti, kata itu sendiri mengandung makna tanpa batas. Dengan demikian kita akan berhenti menjadikan guru pendidikan jasmani yang professional jika kita sudah tidak berperan lagi sebagai guru. Dengan kata lain jika kita sudah tidak bekerja lagi baru kita tidak perlu berbicara tentang profesionalisme. Setujukah Anda?
Rujukan,
Maksum, Ali, (diakses 23 Maret) Kualitas Guru Pendidikan Jasmani di Sekolah:
Antara Harapan dan Kenyataan (on line). Alamat email: alymaks@yahoo.com
Suparno, Kamdi, W., 2008. Pengembangan Profesionalitas guru. Malang: UM
Usman, Uzer,. 2005. Menjadi guru professional. Bandung: Remaja Rosdakarya
Permendiknas Nomor 47 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Diknas
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Diknas
PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan : Jakarta:
( Husainiyah, pikiran rakyat, Kamis, 17 Februari 2005)
(Kompas, 9/12/05di kutip oleh Baskoro Poedjinoegroho E)
Kita sering mendengar apa itu istilah olahragawan amatir dan apa itu istilah olahragawan professional. Dan kita juga tahu bahwa kedua pengertian itu jelas-jelas berbeda olahragAwan amatir diartikan bahwa olahragawan yang menekuninya bukan untuk mencari uang, namun sebaliknya olahragawan professional adalah olahragawan yang justru melakukannya karena ingin mencari uang. Kalau menurut kamus bahasa Indonesia istilah amatir artinya orang yang melakukan sesuatu hanya karena hobi atau kesenangan (bukan bertujuan bisnis). Sedangkan istilah professional artinya berkenaan dengan pekerjaan, berkenaan dengan keahlian; memerlukan kepandaian khusus untuk melaksanakannya; mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya.
Berbicara istilah professional memang kita tidak bisa melepaskan dari kata profesi, sebuah jenis pekerjaan yang didasari oleh sebuah pengetahuan atau pendidikan tertentu. Persoalannya adalah apakah kita sebagai guru pendidikan jasmani profesi? Tentu jawabnya adalah ya karena profesi diperlukan sebuah pengetahuan atau pendidikan. Kalau kita sudah merasa bangga dengan sebutan profesi maka pembahasan kita akan kita akhiri sampai disini. Namun jika kita ingin profesi kita ingin menjadi professional maka kita akan teruskan pembahasan ini.
Tanpa kita sadari sebenarnya kita sudah masuk dalam ruang lingkup professional. Mengapa demikian, karena pekerjaan kita sudah menuntut adanya sebuah pembayaran. Nah, disini persoalanya adalah apakah pembayaran yang kita dapatkan apakah sudah cukup? ataukah kita ingin meningkatkan terus. Kalau itu terjadi maka pada dasarnya kita berada pada sebuah proses menuju professional.
Pada pertanyaan yang kedua adakah guru pendidikan jasmani yang professional? Tentu jawabnya bapak/ibu adalah ada. Kita akan merasa kecewa jika dikatakan tidak professional atau tidak ada guru penjas yang professional. Namun dengan kecewa apalagi marah nampaknya tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Bahkan menghabiskan energy kita yang luar biasa besar. Nah sekarang, bagaimana jika saya menawarkan apa tidak sebaiknya bahwa energy kita, kita salurkan pada aspek peningkatan kualitas diri melalui pendidikan dan pelatihan tentang semua hal yang berkaitan dengan kita sebagai guru pendidikan jasmani. Setujukah anda? Kalau jawabannya ya berarti sekali lagi pembahasan ini pantas kita lanjutkan. Namun pertanyaan berikutnya seberapa banyak jumlah guru pendidikan jasmani yang profesional? Dalam hal ini mestinya perlu diadakan penelitian tersendiri, sehingga kita tahu berapa banyak yang dapat dikatakan professional dan berapa yang tidak. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa banyak teman-teman guru pendidikan jasmani yang berada diruangan ini yang ingin professional? Tentu saja jawabnya yang sederhana adalah seberapa kuat motivasi untuk maju dan berkualitas pada masing-masing individu.
Guru diharapkan melaksanakan tugas kependidikan yang tidak semua orang dapat melakukannya, artinya hanya mereka yang memang khusus telah bersekolah untuk menjadi guru, yang dapat menjadi guru profesio-nal. Tetapi sejauh mana ketentuan ini berlaku umum? Apakah sekolah guru menjamin lulusannya pasti adalah guru yang profesional? Banyak juga lulusan sekolah guru yang memberi kesan seolah-olah mereka tidak pernah melalui pendidikan guru. Jadi realitas ini tidak sesuai dengan yang seharusnya berlaku. Bahkan, sesekali ada juga orang yang tidak merupakan lulusan sekolah guru, yang kemudian ternyata dapat menjadi guru. Apakah mereka itu berhak menyandang predikat guru profesional ?
Berita dari dunia pendidikan menggetarkan: pertama, hampir separuh dari lebih kurang 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Yang tidak layak mengajar atau menjadi guru berjumlah 912.505, terdiri dari 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK.
Hal menarik, yang juga dikemukakan oleh Prof Nanang Fatah, yaitu bahwa pada uji kompetensi Matematika, dari 40 pertanyaan rata-rata hanya dua pertanyaan yang diisi dengan benar dan pada Bahasa Inggris hanya satu yang diisi dengan benar oleh guru yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris. Kedua, tercatat 15 persen guru mengajar tidak sesuai dengan keahlian yang dipunyainya atau bidangnya (Kompas, 9/12/05di kutip oleh Baskoro Poedjinoegroho E).Bagaimana dengan guru pendidikan jasmani sudahkah kita professional?
Guru Pendidikan Jasmani Sudah (Belum) Profesional
Kualitas guru pendidikan jasmani di sekolah-sekolah pada umumnya kurang memadai. Mereka kurang mampu melaksanakan tugasnya secara profesional. Demikian Aip Syarifuddin menyampaikan ini dalam orasinya saat dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jumat (14/6). Salah satu masalah utama dalam pengajaran pendidikan jasmani di Indonesia adalah belum efektifnya pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani di sekolah-sekolah. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor diantarnya adalah terbatasnya kemampuan guru dan terbatasnya sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung proses pengajaran pendidikan jasmani.Guru belum berhasil melaksanakan tanggungjawabnya untuk mendidik siswanya secara sistematik melalui kegiatan pendidikan jasmani, untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan siswa secara menyeluruh, baik dalam segi fisik, mental, intelektual maupun sosial dan emosionalnya. (van) (Sinar Harapan, Jakarta 15 Juni 2009)
Peningkatan harkat dan martabat serta penghargaan guru sebagai profesi sebagaimana sudah diatur dalam peraturan pemerintah nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang guru telah merupakan komitmen konkret pemerintah terhadap profesionalitas guru. Realitas nyata sudah pula dibuktikan, yakni penyelenggaraan sertifikasi guru yang diikuti oleh penghargaan berupa tunjangan profesi bagu yang sudah bersertifikat pendidik. Tujuan kebijakan tersebut adalah peningkatan mutu pendidikan dan secara khusus adalah mepingkatan mutu pembelajaran yang berujung pada peningkatan mutu hasil belajar siswa.
Profesionalisasi guru (pendidik) di Indonesia merujuk pada 3 pilar utama, yaitu (a) diakuinya guru sebagai profesi oleh masyarakat dan pemerintah, diakuinya keberadaan profesi ini sebagai layanan yang unik, (b) disadarinya kenyataan bahwa layanan ahli yang unik itu merupakan terapan suatu kiat (arts), atau terapan non rutin, dari kemampuan akademik yang solid untuk suatu bidang layanan, yang diperoleh melalui pendidikan akademik yang sistematis dan sungguh-sungguh (rigorous) serta berlangsung relative lama, yang kemudian disambung dengan pendidikan profesi yang berupa latihan menerapkan kemampuan yang dikuasai pada tahap pendidikan akademik yang dimaksud, dalam konteks otentk di lapangan disertai mekanisme penyeliaan yang sistematis dan (c) diizinkannya hanya pengampu layanan ahli yang mengedepankan kemaslahatan pengguna layanan khususnya, dan kemaslahatan peserta didik, sehingga layak menerima imbalan yang memadai (Raka Joni, 2007).
Dalam menjalankan tugas professional, kompetensi guru tersebut harus dibuktikan dalam kemampuan-kemampuan berikut: (1) mengenal peserta didik yang akan dilayani secara mendalam, (2) menguasai bidang ilmu baik secara keilmuan maupun pemilihan dan pengemasannya kedalam materi pembelajaran, (3) menyusun rancangan pembelajaran beserta perangkat perangkat pembelajaran, termasuk perangkat evaluasi proses dan hasil pembelajaran, (4) mengimplementasikan rancangan program pembelajaran serta melakukan penyesuaian-penyesuaian demi tercapainya tujuan pembelajaran, (5) menguasai bidang-bidang lain yang diperlukan untuk meningkatkan pembelajaran dan memutakhirkan pengetahuan dan ketrampilan pendidik, dan (6) memiliki sikap, nilai, dan kebiasaan berfikir produktif yang perwujudannya berupa kebiasaan berfikir kritis, berfikir kreatif, mandiri, serta perilaku yang menunjang tampilan kinerja pendidik.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik. Harapan tersebut tentu saja ujungnya adalah terwujudnya guru yang profesional yang mampu menjalankan profesinya sesuai dengan berbagai tuntutan tempat melaksanakan tugasnya. Dengan kata lain usaha sertifikasi ini pada dasarnya adalah meningkatnya efektivitas pembelajaran yang dilakukan para guru pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah.
Upaya meningkatkan profesionalisme guru menurut Gerstner dkk., peranan guru tidak hanya sebagai teacher (pengajar), tapi guru harus berperan sebagai; (1) Pelatih (coach), guru yang profesional, yang berperan ibarat pelatih olah raga. Ia lebih banyak membantu siswanya dalam permainan, bedanya permainan itu adalah belajar (game of learning) sebagai pelatih, guru mendorong siswanya untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi-tingginya. (2) Konselor, guru akan menjadi sahabat siswa, teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban dari siswa, menciptakan suasana di mana siswa belajar dalam kelompok kecil di bawah bimbingan guru. (3) Manajer belajar, guru akan bertindak ibarat manajer perusahaan, ia membimbing siswanya belajar, mengambil prakarsa, mengeluarkan ide terbaik yang dimilikinya. Di sisi lain, ia sebagai bagian dari siswa, ikut belajar bersama mereka sebagai pelajar, guru juga harus belajar dari teman seprofesi. Sosok guru itu diibaratkan segala bisa.( Husainiyah, pikiran rakyat, Kamis, 17 Februari 2005)
Ada beberapa, tugas pokok disamping ada empat fungsi sebagai guru masing-masing adalah guru sebagai pemimpin, guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar dan guru sebagi pembimbing. Tugas-tugas pokok tersebut meliputi; peningkatan kesegaran jasmani anak didik, memimpin kegiatan dalam bermain atau latihan yang, seiring dengan pembelajaran, sebagai motivator dan penegak disiplin.
Untuk tercapainya tujuan pembelajaran pada setiap tatap muka seringkali dijumpai beberapa murid mengalami kesulitan dalam penguasaan skil-skill (keterampilan) gerak. Dalam kondisi seperti ini sebagai guru pendidikan jasmani dituntut profesionalisme dalam pelayanan untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Guru pendidikan jasmani dituntut coaching assets atau modal kepelatihan agar memiliki sifat yang bernilai dari seorang guru penjas disamping sebagai guru juga dia sebagai orang tua, motivator yang memperlancar pendekatan yang positif dan menentukan, dan sebagai teman yang senantiasa membantu memberi dukungan guna tercapainya tujuan pembelajaran. Rasa humor sangat dibutuhkan oleh anak didik manakala rasa jenuh, rasa lelah dan penguasaan materi pembelajaran termasuk skill-skill kurang dikuasai dengan cepat.
Kompetensi pendidik sebagaimana dinyatakan dalam PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, terurai menjadi 4 komponen, yaitu (1) kompetensi pedagogis, (2) kompetensi profesional (dalam penjelasan yang dimaksud kompetensi profesional adalah penguasaan bidang ilmu yang diajarkan), (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi kepribadian. Pengembangan elemen-elemen kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah, akan tetapi musti dilakukan dalam bingkai utuh kompetensi guru.
Kompetensi guru merupakan bentuk integrasi yang bersenyawa dari berbagai pengetahuan dan keterampilan yang sisi-sisinya menampakkan (1) penguasaan dalam disiplin ilmu secara baik dan mendalam (Kompetensi Profesional), (2) penguasaan teori belajar dan pembelajaran serta mengenal peserta didik secara mendalam (Kompetensi Pedagogis), (3) pengembangan pembelajaran, yang terdiri atas kemampuan menganalisis tujuan, menganalisis isi dan mengorganisasi isi, merancang scenario pembelajaran, menyusun perangkat pembelajaran, dan mengembangkan sistem evaluasi (Kompetensi Pedagogis dan Profesional), (4) melaksanakan pembelajaran yang mendidik (Kompetensi Pedagogis dan Profesional). Kinerja tersebut memerlukan dukungan (5) penguasaan bidang-bidang lain yang diperlukan untuk meningkatkan pembelajaran dan memutakhirkan pengetahuan dan keterampilanm pendidik (Kompetensi Sosial dan Kepribadian), dan (6) sikap, nilai, dan kebiasaan berpikir produktif, serta perilaku yang menunjang tampilan kinerja pendidik (Kompetensi Sosial dan Kepribadian)
Kebijakan, penelitian, dan praktik di lapangan semua menegaskan bahwa guru memiliki dampak yang signifikan terhadap pendidikan anakanak bangsa. Tidak hanya Indonesia yang terpuruk mutu pendidikannya, Amerika Serikat pun memberikan mandat melalui Public Law 107-110 (NoChild Left Behind Act), bahwa pada tahun 2005-2006 semua anak di setiap sekolah di Amerika Serikat diajar oleh guru yang berkualitas tinggi. Guru yang berkualitas tinggi didefinisikan sebagai profesional yang memiliki lesensi mengajar dalam bidangnya (U.S. Departmen of Education, 2002), yang di dalam Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 disebut guru yang memiliki kualifikasi sarjana (S1) atau Diploma IV, dan memiliki sertifikat pendidik.
Kompetensi pedagogis, Secara umum, dari gambar di atas dapat dikatakan bahwa rerata proporsi waktu aktif belajar gerak dan angka partisipasi siswa di atas 40% merupakan indikator yang termasuk dalam katagori baik. Oleh karena itu berdasarkan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, cukup jelas bahwa kompetensi pedagogis guru pendidikan jasmani termasuk kategori bagus. Namun demikian apabila dianalisis berdasarkan masa kerja terlihat jelas bahwa semakin lama masa kerja, maka semakin menurun kompetensi pedagogisnya. Kompetensi Profesional, Minimnya pengetahuan yang diperoleh saat pre-service training tampaknya juga berpengaruh pada keyakinan guru dalam menjalankan profesinya. Sebanyak 36,11% menyatakan bahwa mereka merasa tidak layak menjalankan tugas mengajar secara profesional. Mereka yang menyatakan cukup layak sebesar 55,56%, dan hanya 2,78% yang menyatakan sangat layak. Kompetensi kepribadian, Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun secara umum cukup memadai, tetapi yang menyedihkan adalah masa kerja berbanding terbalik dengan kompetensi kepribadian. Semakin lama masa kerja, semakin menurun kompetensi kepribadiannya. Penurunan terjadi di semua aspek, mulai dari kejujuran, kedisiplinan, keterbukaan, etos kerja, dan inovasi. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar Bagaimana dengan kompetensi sosial? Sebagaimana yang terjadi pada kompetensi kepribadian terjadi pula pada kompetensi sosial. Penjelasan yang diberikan pada kompetensi kepribadian dapat juga diterapkan pada konteks kompetensi kepribadian. (Ali Maksum, on line diakses tgl. 23 Maret 2009)
Kesimpulan yang dapat kita paparkan adalah bahwa kata profesionalisme adalah sebuah proses menuju seseorang menjadi ahli, namun jika keahlian sudah diperoleh bukan berarti proses itu berhenti, kata itu sendiri mengandung makna tanpa batas. Dengan demikian kita akan berhenti menjadikan guru pendidikan jasmani yang professional jika kita sudah tidak berperan lagi sebagai guru. Dengan kata lain jika kita sudah tidak bekerja lagi baru kita tidak perlu berbicara tentang profesionalisme. Setujukah Anda?
Rujukan,
Maksum, Ali, (diakses 23 Maret) Kualitas Guru Pendidikan Jasmani di Sekolah:
Antara Harapan dan Kenyataan (on line). Alamat email: alymaks@yahoo.com
Suparno, Kamdi, W., 2008. Pengembangan Profesionalitas guru. Malang: UM
Usman, Uzer,. 2005. Menjadi guru professional. Bandung: Remaja Rosdakarya
Permendiknas Nomor 47 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Diknas
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Diknas
PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan : Jakarta:
( Husainiyah, pikiran rakyat, Kamis, 17 Februari 2005)
(Kompas, 9/12/05di kutip oleh Baskoro Poedjinoegroho E)
Kamis, 30 Juli 2009
ASIKNYA BERMAIN BASKET
Anda senang bermain basket? tidak ada lapangan,tidak ada ring.Namun saat keinginan itu menguat ingin bermain basket ternyata anda sendirian. Nah apa yang harus kita lakukan? dalam hati saya berkata' jangan pernah berhenti untuk bergerak, buat badan kita sehat dan bugar. Nah disinilah tantangan yang sebenarnya di hadapan kita. Jika ada tepat untuk memantulkan bola itu sudah cukup lumayan, ada tembok untuk memantulkan itu lebih lumayan. so, kita dapat melakukan dribel bolak-balik, dribel zig-zag, dan ini dapat kita lakukan baik ke depan, ke samping atau kita kombinasikan bola pantul ke tembok. Sedangkan kalau kita punya partner maka akan lebih mudah lagi, karena kita dapat berimprovisasi lebih luas lagi dengan tambahan passing berpasangan, lempar bola jauh, lempar pantul lantai dsbnya. atau kita dapat membayangkan gerakan-gerakan dalam permainan bola basket dan tirukan gerakan-gerakan itu tahap per tahap secara perlahan dan mulai dari yang sederhana. Ok Bagaimana?
Rabu, 29 Juli 2009
BIAR JALAN SEHAT TIDAK JENUH
Jalan sehat, perlu sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh kita agar selalu bugar dan terhindar dari penyakit. Namun jalan sehat yang monoton, akan menimbulkan kejenuhan bagi kita. Oleh sebab itu, kita perlu berupaya agar lebih bervariasi apa yang kita lakukan. Nah, mari kita memvariasikan jalan dengan jarak tertentu lalu kita selingi dengan lari pelan-pelan dalam jarak tertentu pula kemudian jalan lagi. Variasi ini akan memberikan suasana yang berbeda dari biasanya. Kedua, lewatlah jalur-jalur atau jalan yang tidak biasa anda lalui. Mengapa? seringkali kita akan merasa jenuh jika melakukan hal yang berulang-ulang tanpa ada variasi. Kalau perlu tambah variasi dengan lari cepat lalu jalan kaki.
kalau anda suka yang bersifat penjelajahan, lakukan dengan jalur-jalur yang memang memberikan tantangan. misal anda harus naik turun trotoar, melewati persawahan, tegal atau tempat-tempat yang menurut anda, anda sukai. Mengapa tidak?!. Bisa juga anda pergi naik kendaraan umum menuju suatu tempat yang anda sukai lalu dalam perjalanan pulang anda sudah mempersiapkan diri untuk berjalan sehat. Bagaimana? menantangkan?! Ok selamat mencoba
kalau anda suka yang bersifat penjelajahan, lakukan dengan jalur-jalur yang memang memberikan tantangan. misal anda harus naik turun trotoar, melewati persawahan, tegal atau tempat-tempat yang menurut anda, anda sukai. Mengapa tidak?!. Bisa juga anda pergi naik kendaraan umum menuju suatu tempat yang anda sukai lalu dalam perjalanan pulang anda sudah mempersiapkan diri untuk berjalan sehat. Bagaimana? menantangkan?! Ok selamat mencoba
Selasa, 28 Juli 2009
Olahraga bersepeda,? Kenapa tidak
Anda senang bersepeda? bersepede adalah sebuah olahraga yang menyenangkan mengapa? karena dengan bersepeda kita dapat melihat berbagai tempat yang menarik, sejuk dan rimbun. Nah jika kita ingin berolahraga bersepeda perli kita perhatikan adalah 1) persiapkan sepeda dengan baik artinya cek semua peralatan yang ada hingg tidak akan merepotkan pada saat digunakan di tengah perjalanan. Kalau perlu siapkan kunci2 penting seperti kunci roda, rem agar jika pada saat diperlukan dapat mengatasi sendiri 2) sesuaikan jarak tempuh dengan kemampuan yang di miliki dan jangan karena keinginan banyak orang hingga anda mengalami kelelahan yang sangat tinggi. 3) usahakan bersepeda di tempat-tempat yang menarik, obyek wisata atau lingkungan perumahan yang sejuk dan tertata baik. 4) kerugian bersepeda pun perlu kita perhatikan seperti kerusakan di jalan, dan ban meletus. Oleh sebab itu benar-benar persiapkan sepeda anda dengan baik agar tujuan menyehatkan badan tercapai dan bukan rasa marah karena kerusakan di jalan. Bagaimana? ingin mencoba? kenapa tidak? mari lakukan
Langganan:
Postingan (Atom)