Penelitian tindakan kelas (PTK), adalah salah satu jenis penelitian yang dapat dilakukan oleh setiap guru di berbagai bidang studi, termasuk pendidikan jasmani. PTK sebenarnya hampir setiap pembelajaran sudah dilakukan oleh guru. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Namun persoalan yang sebenarnya bukanlah tentang pembelajarannya, tetapi berkaitan apakah semua aspek dari plan sampai reflektion sudah ditulis? karena bagaimanapun juga bahwa dengan tulisan semua orang dapat mengetahui sekaligus dapat menerapkan hasil penelitian ini.
Dengan melakukan PTK, berarti kita sudah mulai melakukan budaya untuk berkarya, bekerja dan beraktivitas dengan hasil yang nyata. Tetapi saat ini, maaf nampak masyarakat kita termasuk para guru sebagian besar masih banyak yang berbudaya lisan belum berbudaya tindakan. Nah, dengan PTK inilah budaya akademik terutama guru pendidikan jasmani akan mulai nampak dan hasilnya akan dapat mengangkat kemajuan dan perkembangan yang positif untuk bidang studi pendidikan jasmani. Gimana?
There are many kind of sport that do by someone, not only kinds of sport for competition. Sports in this writing are aimed for all community. So that, really all of us can do simple sport well whenever, whereever. so don't be fraid to do
Cari Blog Ini
Selamat Datang, Kawan
Mari berbagai pengetahuan tentang pendidikan, terutama pendidikan jasmani. dan juga tentang Olahraga Bagi yang tertarik kami tunggu komentar dan pendapatnya. OK?
Jumat, 09 April 2010
Rabu, 07 April 2010
Pendidikan Jasmani, Mengapa seperti ini?
Mengajar pendidikan jasmani, memerlukan media untuk beraktivitas. namun seringkali para guru terjebak dengan ketiadaan alat bantu. mereka berkeluh kesah bahwa pendidikan jasmani tidak di perhatikan oleh sekolah, di anak tirikan atau bahkan ada yang bilang pendidikan jasmani dipandang sebelah mata oleh sekolah. Mengapa hal ini dapat terjadi? ya kita mesti menelaah dan merenung atau refleksi diri mengapa ini terjadi? dibawah ini beberapa alternatif hasil renungan, 1) karena para guru terjebak dengan pembelajaran dengan konsep olahraga standar dengan sarana terstandar sehingga jika tidak ada sarana mereka tidak mengajar atau siswa dibiarkan bermain apapaun sendiri, 2) ada semacam labelling oleh bidang studi lain yang melekat pada guru penjas bahwa guru penjas itu sangat "enak" artinya hanya dengan bekal peluit mereka bisa mengajar, 3) maaf, kreativitas teman2 penjas (melempem) dan jarang ditunjukkan kepada guru-guru lain bahwa dengan sarana yang sangat minim guru penjas mampu mengajar dengan baik.
dengan beberapa refleksi diri tersebut, sejatinya setiap guru penjas memiliki kesempatan berkembang yang sama dengan guru bidang studi lain dengan catatan jika kita memiliki keinginan diri untuk selalu maju dan memajukan pembelajaran pendidikan jasmani.
Inovatif dan kreativitas sangat terbuka lebar dalam pembelajaran pendidikan jasmani. namun kembali ke persoalan awal apakah kita berkeinginan untuk mensejajarkan bahkan melebihi bidang studi lain? kalau jawaban kita Ya bearti kita sudah mulai mengarah pada profesionalisme. setuju?
dengan beberapa refleksi diri tersebut, sejatinya setiap guru penjas memiliki kesempatan berkembang yang sama dengan guru bidang studi lain dengan catatan jika kita memiliki keinginan diri untuk selalu maju dan memajukan pembelajaran pendidikan jasmani.
Inovatif dan kreativitas sangat terbuka lebar dalam pembelajaran pendidikan jasmani. namun kembali ke persoalan awal apakah kita berkeinginan untuk mensejajarkan bahkan melebihi bidang studi lain? kalau jawaban kita Ya bearti kita sudah mulai mengarah pada profesionalisme. setuju?
Sabtu, 20 Februari 2010
Sudahkah Guru Pendidikan Jasmani Menyatu dg Teknologi Informasi?
Guru pendidikan jasmani seringkali disamakan dengan guru yang tugasnya 'sangat mudah'. karena dengan bekal peluit dan stopwatch (kalau punya), maka dia sudah dapat dikatakan bisa mengajar. Bahkan guru pendidikan jasmani sering diasumsikan guru yang selalu dapat mengatasi masalah jika ada siswa-siswa yang nakal. Atau maaf, guru yang bermodal dengkul bahkan guru yang suara lantang dan keras sehingga banyak yang takut dengan guru pendidikan jasmani.
Tapi benarkah kondisi yang seperti itu? jelas kita akan menjawab tidak dan sama sekali sebutan-sebutan itu tidak benar. Bagaimanapun juga banyak guru-guru pendidikan jasmani yang sangat baik, bahkan memiliki kompetensi educational, personal, profesional dan sosial dengan baik. Namun demikian kalau toh anggapan itu ada yang benar, kenapa kita tidak mencoba mengevaluasi diri, agar image yang tidak benar itu benar-benar berubah menjadi image yang benar.
Nah kalau judul tulisan saya di atas berkaitan dengan sudahkan guru pendidikan jasmani tanggap dengan teknologi informasi? ini semata-mata sebagai upaya saya untuk mengajak teman-teman tanggap dengan teknologi informasi apakah itu penggunakan komputer, internet sebagai media pembelajar yang menantang siswa-siswi kita. Karena dengan kita canggih dalam penggunakan komputer dan internet rasanya kita sudah memiliki kemampuan profesional yang tidak diragukan lagi. Apa lagi dalam kedua media itu berbagai kemudahan untuk meraih ilmu demikian sangat luasnya.
Memang saya menyadari bahwa kita juga harus profesional dalam mengajar skill dan metodiknya dan ini kalau menurut saya tidak dapat ditawar lagi. Guru pendidikan jasmani harus benar-benar ahli dan otomatically dalam mengajar dengan baik. Namun jika kita dapat menguasai kedua teknologi itu maka kita sebagai guru pendidikan jasmani rasanya tidak ketinggalan dibanding dengan guru-guru bidang studi lainnya. bahkan dengan masyarakat lain. Bagaimanapun juga dalam masa mendatang bangsa ini harus bersaing dengan ketat dengan bangsa-bangsa lain jika kita tidak inginketinggalan. Bagaimana? setuju?
Tapi benarkah kondisi yang seperti itu? jelas kita akan menjawab tidak dan sama sekali sebutan-sebutan itu tidak benar. Bagaimanapun juga banyak guru-guru pendidikan jasmani yang sangat baik, bahkan memiliki kompetensi educational, personal, profesional dan sosial dengan baik. Namun demikian kalau toh anggapan itu ada yang benar, kenapa kita tidak mencoba mengevaluasi diri, agar image yang tidak benar itu benar-benar berubah menjadi image yang benar.
Nah kalau judul tulisan saya di atas berkaitan dengan sudahkan guru pendidikan jasmani tanggap dengan teknologi informasi? ini semata-mata sebagai upaya saya untuk mengajak teman-teman tanggap dengan teknologi informasi apakah itu penggunakan komputer, internet sebagai media pembelajar yang menantang siswa-siswi kita. Karena dengan kita canggih dalam penggunakan komputer dan internet rasanya kita sudah memiliki kemampuan profesional yang tidak diragukan lagi. Apa lagi dalam kedua media itu berbagai kemudahan untuk meraih ilmu demikian sangat luasnya.
Memang saya menyadari bahwa kita juga harus profesional dalam mengajar skill dan metodiknya dan ini kalau menurut saya tidak dapat ditawar lagi. Guru pendidikan jasmani harus benar-benar ahli dan otomatically dalam mengajar dengan baik. Namun jika kita dapat menguasai kedua teknologi itu maka kita sebagai guru pendidikan jasmani rasanya tidak ketinggalan dibanding dengan guru-guru bidang studi lainnya. bahkan dengan masyarakat lain. Bagaimanapun juga dalam masa mendatang bangsa ini harus bersaing dengan ketat dengan bangsa-bangsa lain jika kita tidak inginketinggalan. Bagaimana? setuju?
Sabtu, 02 Januari 2010
Bagaimana Peluang Indonesia dalam Sea Games ke Depan
Dua tahun yang akan datang Indonesia menjadi tuan rumah Sea Games. Waktu yang sangat pendek untuk mempersiapkan para atlet andalan untuk berlaga. Apalagi kalau kita dibebani dengan target yang tidak realistis. Artinya target yang didasarkan pada perolehan medali khususnya emas pada Sea Gemas di Laos yang baru saja berlangsung. Tidak realistik artinya Indonesia ditarget menjadi juara umum untuk 2 tahun yang akan datang. Nah, kita bisa bayangkan selisih perbedaan medali emas dengan Thailan dan Vietnam yang hampir 40 an sendiri. Bagaimana kita dapat membayangkan bahwa dalam jangka 2 tahun kita akan mampu mengejar medali sebanyak itu. Bagaimanakah kita? sangat yakin? yakin? atau tidak yakin? bisa mencapai target tersebut. Nah, ini kalau menurut saya adalah pekerjaan rumah untuk para pengambil kebijakakan. Artinya dari merekalah target itu bisa dipenuhi atau tidak. Jika para pengambil kebijakan mengatakan sangat Yakin bisa juara umum, maka pertama konsep kebijakan apa yang harus diterapkan. kedua, kalau kebijakannya biasa saja maka hasilnya juga biasa saja. Oleh sebab itu perlu kebijakan yang luar biasa. Ini berarti perlu sebuah kebijakan yang bersifat akselerasi atau percepatan. Sebagai contoh, pemusatan latihan harus sudah dimulai sejak sekarang dan juga frekuensi pertandingan harus terukur. Artinya berapa jumlah yang pasti harus sudah dirancang baik dalam negeri maupun luar negeri. Mencari segera bibit-bibit olahragawan baik di klub2 atau di sekolah-sekolah. Maka salah satu cara agar bibit olahgarawan yang dari sekolah muncul maka perlu memperbanyak pertandingan atau perlombaan. Nah, bagaimana pendapat anda?
Olahraga Sebagai Media Perdamaian
Perdamaian adalah impian masyarakat yang sehat. Masyarakat yang menghendaki lingkungan yang tercipta dengan aman dan nyaman. Namun kata ini sering mudah kita pahami namun cukup sulit kita wujudkan. Olahraga adalah sebuak aktifitas gerak yang dapat melibatkan banyak orang. Sebagai contoh senam masal, jalan sehat, pertandingan sepakbola. Ada 2 hal yang perlu kita pahami bahwa untuk menciptakan sebuah masyarakat yang damai tidak begitu saja ada. Namun perlu sebuah usaha yang terus menerus sehingga muncullah suatu habit/kebiasaan masyarakat terhadap arti perdamaian itu sendiri. Sebagai alat perdamaian saat banyak orang berkumpul dalam sebuah kegiatan olahraga, maka pihak yang berkepentingan dapat menghimbau sekaligus mengajak partisipan untuk menciptakan perdamaian. Selanjutnya dalam conten olahraga itu sendiri sebenarnya banyak unsur-unsur yang secara langsung mengikat masyarakat yang terlebit dalam nuansa perdamaian, yaitu berbagai rule/aturan yang memang bertujuan untuk menciptakan nuansa damai. Sebagai contoh penonton sepakbola tidak diperbolehkan berkata-kata kotor., pemain tidak diperbolehkan mencemooh lawan atau bertindak yang bersifat menghina lawan. nah, 2 hal ini sebagai unsur penting dalam menciptakan perdamaian. Bagaimana? setuju?
Selasa, 01 Desember 2009
BEREBUT BOLA ASIK
Permainan ini cukup sederhana, namun dapat memberikan suasana yang lebih fun. Bagaimana cara bermain, 1) kita harus mempersiapkan dulu bola tenis bekas dengan jumlah yang cukup banyak tetapi jumlahnya harus lebih kecil dengan jumlah siswa di kelas, 2) kelompokkan siswa menjadi beberapa kelompok. misal jika kelas berjumlah 30 maka bagi saja kelas menjadi 6 kelompok, 3) sediakan bola tenis dengan jumlah 25. Nah, artinya akan ada kelompok yang kekurangan bola dalam permainan nanti.
lalu apa yang akan kita lakukan? semua kelompok harus berdiri di sebuah garis yang memanjang dan guru bersiap-siap untuk melemparkan bola di lapangan. Dalam melempar ini, bola dilempar dengan bertahap tetapi dalam rentang waktu yang cukup. Setelah bola mulai dilempar maka siswa boleh mengambil dengan cepat dan mengembalikan di tepatnya masing masing. Guru meneruskan melempar sampai bola yang ada habis dan perlu kita ingat bahwa dalam melemparkan bola ke lapangan ini hrus bervariativ arahnya biar siswa berlari tidak satu arah namun berbagai arah.
Bagi kelompok yang dapat mengumpulkan bola paling banyak maka dinyatakan sebagai pemenang. yang kalah bagaimana? bagi yang kalah mereka harus mengumpulkan bola ke keranjang yang sudah disiapkan. dan menghitung jumlahnya tidak boleh kurang dari jumlah semula. Bagaimana? mau coba? kutunggu komen anda
lalu apa yang akan kita lakukan? semua kelompok harus berdiri di sebuah garis yang memanjang dan guru bersiap-siap untuk melemparkan bola di lapangan. Dalam melempar ini, bola dilempar dengan bertahap tetapi dalam rentang waktu yang cukup. Setelah bola mulai dilempar maka siswa boleh mengambil dengan cepat dan mengembalikan di tepatnya masing masing. Guru meneruskan melempar sampai bola yang ada habis dan perlu kita ingat bahwa dalam melemparkan bola ke lapangan ini hrus bervariativ arahnya biar siswa berlari tidak satu arah namun berbagai arah.
Bagi kelompok yang dapat mengumpulkan bola paling banyak maka dinyatakan sebagai pemenang. yang kalah bagaimana? bagi yang kalah mereka harus mengumpulkan bola ke keranjang yang sudah disiapkan. dan menghitung jumlahnya tidak boleh kurang dari jumlah semula. Bagaimana? mau coba? kutunggu komen anda
Senin, 16 November 2009
AGRESIFITAS DALAM OLAHRAGA
Agresifitas sering kali diterjemahkan oleh banyak orang dalam pengertian yang kurang tepat. Orang cenderung mengartikan kearah perilaku yang negatif. Perilaku yang ingin melukai lawan pada saat pertandingan. Namun sebenarnya agresifitas dalam olahraga memiliki pengertian juga pengertian perilaku yang positif. Dalam hal ini adalah agresifitas mengandung arti semangat. Dalam olahraga khususnya olahraga yang bersifat kompetisi, agresifitas sangat diperlukan sekali. Namun Agreifitas ini tidak akan muncul secara tiba-tiba jika seorang atlet tidak pernah melatihnya. Sebuah otomatisasi perilaku agresif nampak jika dalam proses latihan sampai pada saat pertandingan sudah terbiasa dilatih dengan baik. Perilaku agresif dalam olahraga seringkali ditampakkan dalam gerakan-gerakan tertentu. Dalam setiap cabang olahraga tentunya berbeda. Contoh agresifitas pemain voli saat pemain akan melakukan gerakan smash, menerima smash dan pada pemain sepak bola adalah jika pemain penyerang akan mencetak gol ke gawang lawan. Sedangkan pemain lawan pada posisi bertahan akan menghalau bola dari penyerang. Nah bagaimana komentar anda?
Senin, 19 Oktober 2009
2 (DUA) PENTING BAGI GURU PENDIDIKAN JASMANI
Mengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani adalah sebuah tugas yang mengasyikkan. Mengapa? Pertama, karena kita dituntut untuk dapat menguasai ketrampilan dengan baik. Tanpa kemampuan ketrampilan yang baik kita cukup kesulitan membuat mereka percaya pada kita. Tetapi dengan skill yang baik mereka akan berfikir 2 kali untuk tidak mempercayai. Namun, tidak cukup itu. Kedua) kita perlu ketrampilan untuk mengkomunikasikan apa yang akan kita ajarkan dengan baik. Intonasi suara kita, Kehangatan kita dalam berkomunikasi, dalam proses komunikasi, Kita mestinya harus paham benar bagaimana karakteristik (suasana kejiwaan siswa kita, motivasi belajar mereka sekaligus kemampuan berfikir mereka.
2 hal ini penting kita pamahami dengan baik agar kita dapat melakukan tugas kita secara profesional. Ada komentar? saya tunggu, OK?
2 hal ini penting kita pamahami dengan baik agar kita dapat melakukan tugas kita secara profesional. Ada komentar? saya tunggu, OK?
RELI POINT DALAM PERHITUNGAN SKOR BULUTANGKIS
sistem 21 point,
- Setiap service over selalu ada pertambahan angka, pemain selalu menghasilkan angka meski tidak melakukan service.
- Nilai ganjil (1,3,5,dst) dimulai dari kiri. Dan nilai genap (2,4,6,dst) dimulai dari kanan pemain pemegang service.
- Sama seperti single, untuk ganda hanya ada 1 service (tidak ada bole ke dua).
-Jika skor 20-20, pemenang harus unggul 2 point berurutan (consecutive). Misal: 22-20, 23-21,dst
-jika skor 29-29, pemenang adalah yang mencapai angka 30.
-aturan teknis lainnya, sama dengan aturan terdahulu.
materi referensi:
http://www.badminton-information.com/basic_badminton_rules.html
- Setiap service over selalu ada pertambahan angka, pemain selalu menghasilkan angka meski tidak melakukan service.
- Nilai ganjil (1,3,5,dst) dimulai dari kiri. Dan nilai genap (2,4,6,dst) dimulai dari kanan pemain pemegang service.
- Sama seperti single, untuk ganda hanya ada 1 service (tidak ada bole ke dua).
-Jika skor 20-20, pemenang harus unggul 2 point berurutan (consecutive). Misal: 22-20, 23-21,dst
-jika skor 29-29, pemenang adalah yang mencapai angka 30.
-aturan teknis lainnya, sama dengan aturan terdahulu.
materi referensi:
http://www.badminton-information.com/basic_badminton_rules.html
Minggu, 18 Oktober 2009
SUDAHKAH KITA MENGAJAR PENDIDIKAN JASMANI DG BENAR?
Pendidikan jasmani, memiliki tujuan pendidikan yang menyeluruh terhadap peningkatan sumber daya manusia. Hal ini dapat kita ketahui bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani meliputi aspek kognitif, jasmani, mental dan emosional , sosial serta ketrampilan. Dari tujuan ini seyogyanya kita dalam mengajar pendidikan jasmani tidak hanya untuk meraih tujuan ketrampilan semata namun, kita harus pula memperhatikan aspek-aspek lainnya.
Kita dapat memahami bahwa pendidikan jasmani diajarkan melalui aktivitas gerak. Namun bukan berarti kita hanya transfer ketrampilan tetapi justru memlaui aktivitas gerak kita mendidik. Mendidik pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan aspek kognitif,afektif dan psikomotor. Contoh, Aspek kognitif sudah seringkah kita memberikan materi pembelajaran yang bersifat pengetahuan keolahragaan dari aspek teknik, taktik hingga peraturan. Yang kedua sudahkah kita mengajarkan dari aspek afeksi, contoh tentang sikap menghargai teman, membantu teman, memiliki disiplin, semangat dll. Pernahkah Kita benar-benar secara sengaja membelajarkan hal-hal tersebut di atas. Kalau berbicara apakah kita mengajar ketrampilan jawabannya tentu ya. Nah persoalannya sekarang adalah apakah kita sebagai pendidik pendidikan jasmani sudah mengaplikasikan hal tersebut? Kalau jawaban kita belum berarti apa yang kita ajarkan masih perlu di tingkatkan profesionalnya. Namun jika jawaban kita sudah, nampaknya kita masih tetap dan tetap meningkatkan kinerja kita karena untuk profesional tidak ada kata cukup. Bagaimana? ada komentar? silahkan saya tunggu
Kita dapat memahami bahwa pendidikan jasmani diajarkan melalui aktivitas gerak. Namun bukan berarti kita hanya transfer ketrampilan tetapi justru memlaui aktivitas gerak kita mendidik. Mendidik pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan aspek kognitif,afektif dan psikomotor. Contoh, Aspek kognitif sudah seringkah kita memberikan materi pembelajaran yang bersifat pengetahuan keolahragaan dari aspek teknik, taktik hingga peraturan. Yang kedua sudahkah kita mengajarkan dari aspek afeksi, contoh tentang sikap menghargai teman, membantu teman, memiliki disiplin, semangat dll. Pernahkah Kita benar-benar secara sengaja membelajarkan hal-hal tersebut di atas. Kalau berbicara apakah kita mengajar ketrampilan jawabannya tentu ya. Nah persoalannya sekarang adalah apakah kita sebagai pendidik pendidikan jasmani sudah mengaplikasikan hal tersebut? Kalau jawaban kita belum berarti apa yang kita ajarkan masih perlu di tingkatkan profesionalnya. Namun jika jawaban kita sudah, nampaknya kita masih tetap dan tetap meningkatkan kinerja kita karena untuk profesional tidak ada kata cukup. Bagaimana? ada komentar? silahkan saya tunggu
Kamis, 01 Oktober 2009
SATU TRIK DALAM MENGAJAR OLAHRAGA
Bagaimana cara mengajar kita? pernahkah kita mencoba merenung bahwa mengajar perlu terus menerus berbenah agar apa yang kita ajarkan dapat diterima oleh siswa atau orang yang kita ajar. Kalau jawaban kita ya berarti kita patut bersyukur bahwa kita adalah orang yang berani berubah untuk lebih maju.
Dan, salah satu kata yang memberikan sumbangsih yang signifikan adalah EMPATI. Saya yakin bahwa kita sudah tahu persis arti kata itu. Empati secara sederhana dapat diartikan bahwa kita sebagai pengajar mampu memahami dan mengerti apa yang dirasakan oleh siswa. Dengan kata ini kita mencoba lebih dekat secara fisik dan psikis. Nah, yang secara psikis ini sangat penting, karena jika kita dekat dg siswa maka akan lebih mudah kita memberikan materi. Dengan empati akan terjadi timbal balik dalam menerima dan memberi. Dalam hal ini pangajar cenderung memberi dalam hal materi pembelajaran sedangkan siswa dalam hal perhatian dan tindakan yang harus dilakukan.
Namun kita harus sadari bahwa empati ini tidak akan muncul sendirinya jika kita tidak melatih dan berlatih diri. Oleh sebab itu kita seyogyanya tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan kata empati ini agar tujuan kita dalam membelajarkan siswa lebih berhasil. Salah satu contoh adalah sebuah pehatian/pandangan mata pada saat mengajar harus menyeluruh dan tidak hanya tertuju pada satu, dua atau sekelompok siswa. Ok Selamat mencoba. Ada komentar saya tunggu
Dan, salah satu kata yang memberikan sumbangsih yang signifikan adalah EMPATI. Saya yakin bahwa kita sudah tahu persis arti kata itu. Empati secara sederhana dapat diartikan bahwa kita sebagai pengajar mampu memahami dan mengerti apa yang dirasakan oleh siswa. Dengan kata ini kita mencoba lebih dekat secara fisik dan psikis. Nah, yang secara psikis ini sangat penting, karena jika kita dekat dg siswa maka akan lebih mudah kita memberikan materi. Dengan empati akan terjadi timbal balik dalam menerima dan memberi. Dalam hal ini pangajar cenderung memberi dalam hal materi pembelajaran sedangkan siswa dalam hal perhatian dan tindakan yang harus dilakukan.
Namun kita harus sadari bahwa empati ini tidak akan muncul sendirinya jika kita tidak melatih dan berlatih diri. Oleh sebab itu kita seyogyanya tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan kata empati ini agar tujuan kita dalam membelajarkan siswa lebih berhasil. Salah satu contoh adalah sebuah pehatian/pandangan mata pada saat mengajar harus menyeluruh dan tidak hanya tertuju pada satu, dua atau sekelompok siswa. Ok Selamat mencoba. Ada komentar saya tunggu
Senin, 28 September 2009
OLAHRAGA PEMBENTUK KARAKTER POSITIF
Olahraga merupakan salah satu media untuk membentuk karakter positif bagi pelakunya. Karakter ini akan dapat dicapai jika kita memang menginginkannya. Kadang kita berolahraga "hanya" sekedar ingin bugardan terampil. Namun kurang begitu menyadari bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya bisa lebih jauh dari itu dalam aspek pembentukan karakter. Kita bisa ambil contoh, permainan futsal yang merupakan olahraga beregu. Pertanyaannya? Nilai-nilai apa yang dapat kita tuju dari permainan futsal? dalam hal ini kita tidak sekedar memperoleh hasil atau efek samping. Namun kita benar-benar ingin mencapai tujuan yang kita kehendaki. Nilai itu adalah 1) bahwa kita bisa dengan sadar bahwa futsal media yang sangat ampuh untuk melatih kerjasama. Kita tahu bahwa sebuah karakter kerjasama tidak akan muncul pada diri kita jika kita tidak melatihnya. Bagaimana? 2) melatih diri untuk taat terhadap aturan. Kita tahu bahwa dalam futsal peraturan permainan demikian ketatnya, jika ada yang melanggar maka dia harus menerima hukuman yang akan diberikan seorang wasit. Namun andai dalam kita bermain tidak ada wasit bagaimana kita menyikapi? sekali lagi kalau kita concern terhadap tujuan yang kita inginkan maka ada atau tidak ada wasit tidaklah terlalu penting. Sebab kita dapat berlatih untuk tertib dan menghargai aturan yang sudah terbentuk. Dengan demikian maka karakter kita akan terbentuk dengan baik bahwa kita sudah terbiasa dengan menghargai aturan dan mentaati aturan. ke 3) Melatih emosi, sering kita dalam bermain futsal timbul rasa marah, kecewa, sakit hati atau dendam. Namun jika kita menyadari tujuan yang akan kita raih mestinya sikap-sikap yang negatif tersebut akan kita lawan dengan sikap sikap yang positif. Kita tidak akan mudah kecewa jika ada teman bermain yg bermainnya jelek. Kita tidak akan mudah marah jika kita "dilukai" oleh lawan dsb. Nah ha-hal yg demikian itulah yang akan kita raih untuk membentuk karakter yang positif. Bagaimana? Ada komentar? saya tunggu.
Minggu, 27 September 2009
MAKNA PENDIDIKAN JASMANI
Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas fisik atau gerak. Makna ini mengandung bahwa kita sebagai seorang guru pendidikan jasmani bertugas mendidikan siswa agar memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang positif agar mereka menjadi siswa yang semakin dewasa dalam berfikir, bersikap dan bertindak. Pendidikan jasmani dan olahraga adalah media yang harus kita berikan. Namun dalam kenyataan dalam pembelajaran penjas masih cukup banyak guru-guru penjas cenderung "hanya" mengajar ketrampilan atau bahkan sekedar transfer ketrampilan. Nah, hal yang semacan ini bukan berarti salah namun tujuan yang sebenar masih belum tercapai. Disinilah kita memiliki peran untuk merubah cara berpikir kita dan sekaligus mnsosialisasikan kepada teman-teman guru penjas yang lain. Memang dalam satu sisi kita dihadapkan pada berbagai lomba/pertandingan cabang olahraga, namun hal ini seharusnya tetap tidak merubah tujuan akhir dari pendidikan jasmani. Nah, disini kita dituntut untuk pandai-pandai untuk melihat sekaligus membedakan kapan kita harus menerapkan konponen pendidikan jasmani dan kapan kita harus melatih olahraga. Nah bagaimana teman2? sepakat?
Rabu, 23 September 2009
LEMPAR BOLA
Pertama-tama, kita membuat lingkaran besar dengan diameter kurang lebih 20 meteran. Kemudian semua siswa berada di dalam lingkaran dan 2 siswa sebagai pelempar. Pelempar berada di luar lingkaran dan tidak boleh masuk di dalam lingkaran. Permainan ini menggunakan alat yaitu, bola kasti atau bola plastik kecil. Cara bermainnya adalah 2 pelempar melakukan lemparan hingga dapat mengenai kaki atau lutut sampai bawah. Jika ada siswa yg terkena bola maka ia akan menjadi pelempar. Dalam hal ini, maka pelempar akan terus bertambah sesuai dengan jumlah siswa yg kena lemparan bola. Perlu dicatat bahwa lemparan tidak boleh mengenai badan atau kepala. Ok selamat mencoba. Bingung silahkan beri komentar.
KEMBALI KE RUMAH
Permainan Ini cukup sederhana, namun memberikan suasana pembelajaran yang menarik, Pertama, kita membuat 3 Pos (rumah) dengan jarak kurang lebih 20 meter dari masing-masing pos. Besar kecilnya Pos disesuaikan dengan jumlah siswa, misal 3 x 3 meter.n Posisi pos satu dengan yg lain sama sisi. Permainan di awali dengan siswa berlari pelan di dalam pos dengan membentuk lingkaran. Dengan aba-aba tertentu Guru memberi aba-aba tertentu dalam siswa masuk ke pos masing-masing sesuai dengan kelompok yang sudah di tentukan. Pemenangnya adalah kelompok yang masuk rumah duluan dan yang dinyatakan kalah adalah kelompok yg paling akhir masuk pos. Kemudian guru dapat memberikan hukuman sesuai dengan kesepakatan. Selamat mencoba. Jika kurang jelas silahkan beri komentar.
Langganan:
Postingan (Atom)